Rabu, 19 November 2014

krisis lingkungan hidup

Krisis lingkungan hidup
Masalah lingkungan hidupbaru mulai disadari sepenuhnya dalam tahun 1960-an. Khususnya oleh cara berproduksi dalam industri yang berlandaskan ilmu dan teknologi maju. Tentu saja, sejak permulaan industri di Inggris akhir abad ke-18, sudah terdengar banyak keluhan tentang pengaruh negatif dari industri atas lingkungan hidup. Sekarang polusi yang disebabkan oleh bisnis modern mencapai suatu tahap global dan tak terbataspada beberapa daerah industri saja, bahkan sektor pertanian dan peternakan yang dijalankan dengan bisnis besar-besaran juga mempunyai andil besar dalam pencemaran lingkungan hidup. Dan kini sekarang kita berada dalam suatu krisis. Mengapa hal itu terjadi? Karena sebagai akibat pencemaran dan perusakan lingkungan, kelanjutan hidup sendiri terancam dibumi kita, termasuk hidup manusia.
Dalam konteks lingkangan, dapat diterapkan pendapat Karl Mark yang sebetulnya dikemukakan dalam konteks lain, bahwa perubahan kuantitas bisa mengakibatkan perubahan kualitas. Misalnya, jika satu pohon ditebang maka tidak ada pengaruhnya dan suatu daerah tidak akan berubah, namun jika ratusan hektar pohon ditebang, satu daerah itu bisa mengalami erosi dan keadaan gersang yang tidak mudah dipulihkan kembali. Inti dari masalah lingkuangan hidup adalah bahwa bisnis modern yang memanfaatkan ilm dan teknologi canggih telah membebankan alam di atas ambang toleransi. Selama alam dimanfaatkan sesuai batas maka keutuhan dan keseimbangannya masih bisa bertahan. Tetapi kini alam sudah di eksploitasi dengan melewati batas. Jika keadaan ini dilanjutkan terus, alam dengan segala ekosistemnya akan hancur sama sekali.
Cara berproduksi besar-besaran dalam industri modern dulu mengandaikan begitu saja dua hal yang sekarang diakui sebagai kekeliruan besar. Pertama, bisnis modern mengandaikan bahwa komponen-komponen lingkungan seperti air dan udara merupakan barang umum, sehingga boleh dipakai seenaknya. Misalnya, industri yang memiliki tanah tidak boleh disitu membuang limbah kimia beracun, karena pengaruh negatifnya bisa merugikan orang lain. Misalnya, air tanah dibawahnya dapat dicemari atau tanah yang diracuni itu dengan cara lain dapat mempengaruhi lingkungan. Kedua, diandaikan pula bahwa sumber daya alam seperti air dan udara itu tak terbatas. Tentu saja, secara teoritis tidak pernah disangkal bahwa bahan-bahan alami itu akhirnya mempunyai batas juga, namun batas itu dianggap sangat jauh dan dalam praktek orang bertindak seakan-akan tidak ada batas sama sekali. Pada zaman kita sekarang, masalah lingkungan hidup sudah mencapai suatu taraf global. Terutama ada enam problem yang dengan jelas menunjukan dimensi global itu: akumulasi bahan beracun, efek runah kaca, perusakan lapisan ozon, hujan asam, deforestasi dan penggurunan, dan kematian bentuk-bentuk kehidupan. Sebaiknya kita memandang enam problem ini dengan lebih rinci.
Akumulasi bahan beracun
Industri kimia tidak dieprbolehkan lagi membuang limbahnya ke dalam sangai laut. Pembuangan sebelumnya sedah mengakibatkan banyak faktor negatif, antara lain ikan tidak layak lagi dikonsumsi karena kadar merkuri di dalamnya atau bahan beracun lainnya menjadi terlalu tinggi. Air tanah dicemari dan tidak layak lagi diminum manusia dan ternak, karena bahna kimia yang dibuang di situ merembes kedalamnya. Misalnya, beberapa herbisida seperti silvex, yang dulu banyak dipakai, diketahui mengandung dioksin, yang merupakan racun kuat dan dapat mengakibatkan kanker.
Resiko besar sekali untuk lingkungan dibawakan oleh penggunakan tenaga nuklir. Seperti setiap unit teknis lainnya, reaktor-reaktor nuklirpun bisa mengalami kecelakaan. Tetapi tidak sebanding sengan kondisi teknis lain, disini akibatnya untuk lingkungan dan kesehatan manusia dangat dahsyat, sebagai mana terbukti dengan kecelakaan di Three Mile Island, Pennsylvania, Amerika Serikat 1979, di Chernobyl, Ukraina, pada 1989 atau di Tokaimaru, Jepang pada 1999. Selain resiko terjadi kecelakaan , setiap reaktor nuklir memproduksi limbah nuklir seperti plutonium yang mengandung radioaktivitas selama ribuan tahun dan sangat membahayakan kesehatan manusia.
Efek rumah kaca
Menurut para ahli, suatu gejala yang sangat mengkhawatirkan adalah naiknya suhu permukaan bumi. Hal itu disebabkan oleh greenhouse effect atau efek rumah kaca. Panas yang diterima bumi karena penyinaran matahari, terhalang oleh partikel-pertikel gas yang dilemparkan dalam atmosfer oelh ulah manusia, sehingga tidak bisa keluar. Salah satu sebab utama dari efek rumah kaca yakni karbondioksida yang terlepas dari pembakaran bahan bakar fosil. Jadi kendaraan dan industri yang menggunakan bahan bakar fosil memainkan peranan besar dalam mengakibatkan keadaaan ini. Sebagai akibat pemanasan bumi es dan salju dikutub utara dan selatan mencair dan permukaan laut akan mencair dan dapat menghilangkan negara-negara yang bertemoat rendah. Kenaikan suhu permukaan bumi bisa menyebabkan juga perubahan iklim sedunia dengan akibat kekeringan, banjir, angin topan dan bencana alam lainnya.
Perusakan lapisan ozon
Bumi dikelilingi lapisan ozon (O3) dalam atmosfer yang mempunyai fungsi sangat penting, yaiu melindungi kehidupan terhadap sinar ultraviolet dan matahari. Perusakan lapisan ozon itu diakibatkan oelh sebab yang berbeda. Tetapi menurut beberapa ahli, penyebab paling berpengaruh adalah pelepasan bahan CFC (klorofluorokarbon) ke dalam udara. CFC adalah bahan kimia yang banyak dipakai dalam kaleng penyemprotan aerosol, lemari es dan alat AC (penyejuk) dan juga dalam “karet” busa. Radiasi ultraviolet dari matahari yang karena kerusakan lapisan ozon bisa mencapai permukaan bumi. Radiasi itu bisa mengakibatkan kanker kulit, penyakitmata katarak, penurunan sistem kekebalan tubuh, kerusakan bentuk-bentuk hidup dalam laut dan tanaman didarat.
Hujan asam
Sejak beberapa dekade terakhir ini di kawasan industri padat seperti Kanada dan bagian utara dari Amerika Serikat, Jerman Barat, dan Negeri Belanda terjadi hujan asam (acid rain). Asam adalah emisi industri bargabung dengan air hujan dan mencemari daerah yang luas. Hujan asam merusak hutan dan pohon-pohon lain, mencemari air danau, merusak gedung-gedung, dan sebagainya. Bagi manusia, hujan asam bisa mengakibatkan gangguan saluran pernafasan dan paru-paru.
Deforestasi dan penggurunan
Akhir-akhir ini hutan dibabat untuk kepentingan bisnis pihak-pihak yang ingin memperoleh keuntungan. Misalnya menebang hutan untuk diambil kayu-kayunya atau pembukaan hutan yang digunakan untuk membuka lahan pertanian. Jika penebangan hutang atau yang biasa di sebut deforestasi dilakukan secara besar-besaran itu mempunyai dampak penting atas lingkungan hidup. Salah satu fungsi hutan adalah sebagai penyerap karbondioksida yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil (industri kendaraan bermotor), suatu penyebab penting terjadinyaefek rumah kaca. Kalau tidak secara sistematis hutan yang ditebang itu diganti dengan pohon-pohon baru, bisa timbul erosi pada skala besar. Erosi tanah dapat mengakibatkan juga meluasnya penggurunan (desertification), khususnya di negara-negara di sekitar gurun sahara di Afrika dan juga di Amerika Serikat. Di banyak kota besar, di seluruh dunia, termasuk juga di Indonesia, tingkatan air tanah menurun karena dipompa oleh industri, hotel-hotel, dan rumah tangga. Dengan demikian kualitas tanah menurun juga dan air laut semakin menyusup ke dalam.
Keanekaan hayati

Yang dimaksud “keanekaan hayati” (biodiversity) adalah jenis-jenis kehidupan (species) yang ada dibumi. Kekayaan alam sebagian besar ditentukan oleh banyak spesies. Keanekaan hayati sangat penting bagi kehidupan manusia, dan jika tidak dimanfaatkan sekarang mungkin akan berguna dimasa yang akan datang. Tetapi banyak spesies keanekaan hayati punah sekarang. Dan salah satu akibat besar dari kerusakan lingkungan adalah kepunahan itu sendiri yang melanda semakin banyaknya spesies hidup. Dan hal ini penggunaan pestisidan dan hibrida yang memainkan peranan besar.

referensi:
bertens,kees.2000. pengantar etika bisnis. jakarta : penerbit kanisius

Tidak ada komentar:

Posting Komentar