EKA
WAHYU APRILIANI
120413423916
OFFERING
K
UNIVERSITAS
NEGERI MALANG
PONZI DAN KRISIS KEUANGAN
“Instability is a normal result of
modern finansial capitalism” (Hyman P. Minsky,1986). Kalimat ini manyatakan
bahwa tidak ada habis-habisnya dunia dihantui krisis yang ada. Krisis di dunia
tidak pernah sepi, sebelumnya krisis surat utang yang berkualitas rendah
(subprime mortgage) yang meracuni perbankan dan pasar keuangan Amerika reda,
datang ancaman dari surat utang pemerintah (goverment bond) dari kawasan Eropa.
Surat utang ini diprakarsai dari runtuhnya neraca keuangan pemerintah yunani
yang diakibatkan terlalu besar defisit anggarannya.
Dari ini krisis Yunani merembet ke
negara-negara Eropa. Jika Amerika memulai krisis dengan jebolnya neraca-neraca
perbankan maka di Eropa krisis terjadi karena neraca pemerintah yang mengalami
defisit anggaran dan menjadikan mereka kolaps. Kedua topik ini sangat berkaitan
dalam runtuhnya perekonomian global yang sangat mempengaruhi antara yang satu
dengan yang lainnya.
Secara sederhana dapat dijelaskan
diantara neraca rumah tangga, neraca perusahaan, dan neraca pemerintah sangat
berhubungan satu sama lain. Dan jika guncangan yang terjadi dalam neraca rumah
tangga maka akan sangat dimungkinkan akan terjadi guncangan juga dalam neraca
sektor lain. Dimisalkan pada krisis yang terjadi di Indonesia pada tahun
1997-1998 yang terjadi karena buruknya neraca perusahaan yang dikarenakan
banyaknya kredit macet yang terjadi dan menyerang sektor perbankan. Hal itu
menyebabkan perbankan menjadi kolaps, dan neraca pemerintah juga ikud
tergoncang karena harus turut menyelamatkan perbankan dan hal itu juga terkait
dengan kesulitan likuiditas dan akhirnya pemerintah mencabut subsidi yang ada,
dan hal itu akan mengguncang neraca rumah tangga juga.
Di Amerika Serikat terjadi kasus
krisis surat utang perbankan yang mengakibatkan memburuknya neraca perbankan
yang juga mendorong memburuknya neraca pemerintah. Dalam kasus lainnya adalah
kasus yunani yang harus mengalami persoalan dalam seraca pemerintah akibat
tidak hati-hati dengan pengelolaan kebijakan anggarannnya, sehingga neraca
perbankan juga mengalami persoalan dan lagi-lagi anggaran mengenai subsidi juga
di rampingkan serta pengeluaran pemerintah terhadap kesejahtaraan warganya juga
ikut dipangkas. Dan itulah yang membuat warganya menjadi protes secara
besar-besaran. Krisis-krisis tersebut mengingatkan bahwa stabilitas merupakan
barang publik.
Kurangnya informasi yang jelas itu
akan membuat perilaku investor yang tidak rasional dan hanya mengandalkan
intuisi saja akibatnya orang serring kali membuat spekulasi-spekulasi yang
bahkan tidak benar adakalanya jika informasi itu membuatnya ketakutan dengan
adanya penurunan nilai dan kesenangan akan menaiknya nilai. Dan hal itu juga
akan menjadikan gejala sistemik yang akan mengakibatkan investor akan dengan
mudah menyalurkan dan menarik dananya secara tiba-tiba, dan hak ini akan
berpengaruh terhadap pengurangan likuiditas. Kurangnya kepercayaan atau
likuiditas merupakan suatu masalah yang sering menyebabkan krisis ekonomi
dunia. Dan tipe semacam ini yang kemudian disebut ekonomi ponzi atau buble
economic. Kata ponzi berasal dari nama seorang mafioso Italia yang menetap di
AS, yaitu Charles Ponzi yang menjalankan usaha dengan cara yang tidak baik
yaitu melalui penipuan untuk mendapatkan keuntungan. “ponzi ekonomi” teori yang
dipopulerkan Heyman Minsky merupakan penjelasan tipikal perilaku agen ekonomi,
dimana cara pengelolaannya sangat tidak prudent. Akibatnya, untuk membayar
cicilannya tidak mampu karena menjalankan bisnis dengan cara patgulipat sama
sekali tidak rill.Dalam system ekonomi kapitalis selalu terdapat sumber
guncangan yang berasal dari dalam system itu. sendiri yang salah satunya adalah
penumpukan utang. Misalnya di AS yang menggunakan subprime mortgage yakni dalam
sistem perbankan bayangan yang didahului oleh gejolak surat utang yang
bergejolak di pasar surat utang berbasis perumahan yang berkualitas rendah.
Meletusnya subprime mortgage memberikan efek berantai. Dan satu persatu
gemebung tersebut akan meletus secara berentetan dan akibatnya proses
penyesuaian nilai perusahaan terkait melonjaknya utang (deleveraging) terjadi
secara parah.
Heyman K Minsky
juga mengklasifikasikan sifat pengutang yakni :
-
Hedge yang merupakan pengutang yang berhati-hati yang prinsipnya
adalah mampu melakukan pelunasan kewajiban dengan baik (baik cicilan maupun
utang pokoknya) dengan menggunakan aliran kas darihasil kegiatan investasinya.
-
Speculative pengutang yang spekulatif artinya
pengutang yang mampu membayar cicilan utangnya dari hasil aliran kasnya, tetapi
untuk melunasi hutang pokoknya dengan menjual sebagain assetnya. Sehingga tipe
pengutang ini tetap bisa melunasi hutangnya dengan cara meminjam lagi sehingga
dapat melunasi hutangnya.
-
Ponzi, pengutang yang tak lagi bisa membayar
hutangnya karena tipe ini tidak mampu melunasi cicilan dan bunganya dengan
menggunakan aliran kas dari kegiatan investasinya sehingga untuk membayar
kewajibannya ponzi mengharapkan apresiasi terhadap nilai asetnya agar dapat
tetap melakukan pembayaran utangnya dan sebaliknya jika asetnya mengalami
depresiasi maka ponzi tidak dapat membayar hutangnya kembali.
Dari hal tersebut secara umum
sistem pemikiran perekonomian dunia telah bergerak kepada arah spekulasi dan
ponzi. Dimana hal ini merujuk pada sebuah sistem inovasi financial terjadi
secara eksesif serta likuiditas yang banyak dalam sistem perbankan bayangan.
Deflasi utang dan devaluasi nilai aset tanpa bisa lagi melunasi kewajibannya
bahkan untuk membayar cicilan dan bunga dari utang tersebut.
ponzi merupakan sebuah modus
investasi palsu yang membayarkan keuntungan-keuntungan kepada investor dari
uang mereka sendiri atau uang yang dibayarkan oelh investor berikutnya, bukan
dari keuntungan yang diperoleh oleh individu atau organisasi yang menjalankan
operasi. Skema ini biasanya membujuk investor baru dengan menawarkan
keuntungan-keuntungan yang ditawarkan apabila mereka berinvestasi di dalam
investasi yang dijalankan oleh ponzi tersebut dari pada investasi-investasi
lain yang sejenis. Keuntungan-keuntungan dalam jangka waktu yang pendek
tersebut mencapai tingkat pengembalian abnormal yang tinggi atau luar biasa
konsisten dan hal tersebut membuutuhkan aliran yang terus meningkat dari uang
yang didapat dari investor baru untuk menjaga skema agar terus berjalan.
Elemen-elemen kunci dalam skema
ponzi:
-
Manfaat
Tawaran janji jika
modal akan kembali dalam jumlah besar di atas normal. Dengan tingkat
pengembalian yang sudah ditetapkan dan cukup tinggi serta memberikan manfaat
kepada investor namun angkanya serealistis mungkin agar mudah dipercaya.
-
Setup
Dengan adanya
penjelasan-penjelasan tentang bagaimana cara agar investor bisa mendapatkan
tingkat kembalian investasi yang lebih tinggi atau diatas normal. Dengan cara
investor pada awalnya mengaku jika memiliki cara tertentu atau memiliki akses
informasi agar bisa menjalankan modal atau investor awal menyebutkan bahwa
mereka mempunyai akses atau cara berinvestasi yang sangat menguntungkan dan
tidak ditawarkan pada publik.
-
Kredibilitas awal
Skema investasi
ini membutuhkan orang-orang yang kredibel dan dapat dipercaya agar mampu
meyakinkan dan menarik para investor baru yang akan menginvestasikan uangnya.
-
ROI berjangka bagi investor
Dalam hal
pengembalian investasi, investor dijanjikan mendapatkan pengembalian modal
dalam jangka waktu tertentu.
-
Info dan berita tentang keberhasilan
Elemen yang satu ini menerangkan
bahwa adanya investasi ini harus mendengar paling tidak bagaimana keberhasilan
pembayaran investasi, bonus dan keuntungan yang didapatkan investor dan
pesatnya perkembangan bisnis ini serta potensi-potensinya. Agar akhirnya uang
yang masuk lebih besar daripada uang yang dikeluarkan oleh investor.
Referensi:
Prasetyantoko, A. 2010. Ponzi
Ekonomi Prospek Indonesia di Tengah Instabilitas Global. Jakarta: PT. Kompas
Media Nusantara.
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2010/03/21/krisis-finansial-moneter-dan-bencana-ekonomi-96182.html
diakses tanggal tanggal 7 november 2014.
http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2014/02/09/skema-ponzi--630623.html
diakses tanggal tanggal 7 november 2014
http://aprasetyantoko.blogspot.com/2007_02_04_archive.html
diakses tanggal tanggal 7 november 2014
https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad=rja&uact=8&ved=0CDYQFjAD&url=http%3A%2F%2Faprasetyantoko.blogspot.com%2F2007_02_04_archive.html&ei=s7ldVMPyMoi2uASZ7oCwBA&usg=AFQjCNFM3YP0utgcpavWJFHRmStriJcmNw&bvm=bv.79189006,d.c2E
diakses tangal 7 november 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar